Di Penghujung Musim Panas


Hari itu, aku hendak mencetak selembar dokumen. Tapi hari itu hari ahad, semua toko tutup, sementara aku ingin mengirimkan scan-an dokumen itu hari itu juga. Aku lalu berpikir, aku bisa meminta seorang teman mengajiku untuk mencetak kertas itu di rumahnya.

Kuhubungi dia lewat sms, tetapi dia tidak membalas. Aku rasa dia lebih mudah dihubungi lewat whatsapp, sayangnya aku tidak punya nomor whatsapp-nya. Akhirnya aku pergi ke mesjid untuk shalat 'ashr dan berharap dia pun hadir pula di sana.

Aku berjalan kaki ke mesjid. Aku berpikir, jika dia hadir pula, maka segera setelah shalat aku akan mencegatnya sebelum ia sampai ke pintu keluar.

Setibanya di mesjid, aku segera berwudhu dan masuk ke ruang shalat perempuan. Dari lantai dua itu aku mengintip jamaah laki-laki di lantai bawah. Di antara jamaah shalat yang hanya beberapa orang itu, aku melihat seorang teman mengajiku yang lain, tetapi tak kulihat teman yang aku buru di sana. Ah, baiklah, tidak apa-apa. Mungkin besok saja, pikirku.

Usai shalat, aku menengok ke jendela dan menyadari hujan turun. Aku harus bergegas pulang, pikirku, sebelum hujan gerimis menjadi semakin deras. Kalau tidak, aku akan basah kuyup, sebab payungku tertinggal di sebuah toko di pusat kota.

Dengan agak berlari, aku menuruni tangga dan segera menuju ke lantai bawah. Mesjid sudah kembali sepi dan tak kulihat satu jamaah pun. Lalu kubuka pintu keluar yang menuju lobby luar masjid. Aku terperangah, hujan gerimis itu telah berubah seketika menjadi hujan deras.

"Kamu harus menunggu, hujannya deras," ucapnya. Dia adalah teman mengajiku yang aku lihat dari atas sebelum shalat tadi. Dia sedang duduk sendirian di lobby luar masjid menunggu hujan. "Ah... ya," ucapku masih agak terheran melihat hujan yang tiba-tiba lebat begitu cepat.

Di lobby itu ada banyak sekali kursi, biasanya tak begitu. Yah, karena tak punya pilihan selain menunggu, aku pun duduk di salah satu kursi itu, dengan jarak sekitar dua meter darinya.

Kami lalu berbincang-bincang singkat, menanyakan kabar masing-masing dan pekerjaan. Tak lama kemudian kami sibuk dengan hand phone masing-masing. Dia menonton video ceramah dalam bahasa ibunya, sebuah bahasa yang tak aku mengerti. Sementara itu, aku membalas pesan-pesan whatsapp yang sudah lama belum aku balas. Aku selalu saja mempunyai pesan yang tertunda sangat lama untuk kubalas.

Temanku itu lalu membuka kembali percakapan, kami bercakap-cakap mengenai pentingnya memegang teguh agama Islam di negara sekuler. Aku menimpalinya dengan cerita rekan kerjaku yang tak memeluk agama pun, tetapi pergi berdoa ke gereja jika sedang bersedih atau dilanda masalah.

Kami lalu kembali sibuk dengan hand phone masing-masing. Setelah beberapa menit, dia membuka percakapan lagi dan kami kembali mengobrol. Lalu kami kembali pada hand phone masing-masing, terus berulang seperti itu hingga aku berpikir, ternyata dia suka berbicara kepadaku. Selama ini aku pikir dia tidak tertarik untuk berbicara denganku selain sapaan-sapaan umum setiap kali kami bertemu dalam pengajian mesjid.

Hujan turun dengan derasnya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti. Di tengah-tengah penungguan kami itu, dia bertanya kepadaku, "apakah kamu akan tinggal di sini selamanya?"
Aku tidak tahu sama sekali aku akan menetap di mana, jadi aku menjawab, "aku tidak tahu. Tidak masalah bagiku untuk tinggal di mana saja."

"Apakah kamu mau menikah di sini?" tanyanya lagi dengan nada penasaran.
"Itu juga aku tak tahu. Kalau memang sudah takdirku untuk menikah di sini, maka itulah yang akan terjadi," jawabku lugas. "Orang tuaku juga tidak keberatan dengan asal calon suamiku kelak, dari Indonesia, dari Jerman, atau dari mana pun," tambahku.
"Wah, bagus sekali," dia tidak menduga aku memiliki jawaban semacam itu.

Dia lalu melanjutkan, "bolehkah aku tahu, kriteria seperti apa calon suami yang kamu mau?" 
"Seorang muslim yang baik, itu saja," jawabku sambil tersenyum. Aku tak tahu kalau topik ini mengusik rasa penasarannya.  Dia lalu meneruskan, "tidak harus kaya kah?"
"Tidak," jawabku. "Kemarin malah ada seseorang dan orang yang hendak memperkenalkan kami berkata, 'dia punya mobil lho,' tapi aku tidak tertarik. Aku tidak butuh mobil."
"Jadi, yang terpenting adalah imannya, begitu maksudmu?" selidiknya.
"Ya, benar," tegasku.

Dia bertanya lagi, "sudah berapa lama kita saling mengenal? Lima bulan? Enam bulan?"
"Sudah lama... Bukankah kita sudah saling mengenal selama satu tahun?" jawabku, balik bertanya.

Dia mengangguk dan bertanya lagi, "lalu, bagaimana kamu melihatku selama ini?"
Pertanyaan ini cukup mengusikku. Ini bukanlah jenis pertanyaan yang akan dia lontarkan begitu saja. Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. Aku ingin berkata, kamu adalah pria yang baik, atau sholeh. Tapi karena dia lebih muda dariku, bagiku dia bukan seorang pria (a man) melainkan seorang cowok (a boy). Lalu aku berkata, "kamu itu anak cowok yang sangat baik."

Dia langsung mengajukan pertanyaan berikutnya sepersekian detik setelah dia memperoleh jawaban dariku. Dia bertanya, dan aku tak menduga sama sekali bahwa dia akan menanyakan hal itu, "kalau begitu, bisakah kamu membayangkan memiliki masa depan denganku?"

.    .    .

Aku. Sangat. Terkejut. Dengan pertanyaan itu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku tak tahu aku harus menatap apa. Suasana sunyi selama beberapa detik. Lalu dia melanjutkan - aku sungguh bersyukur dia tidak menungguku menjawab. Dia melanjutkan dan dengan tenang menjelaskan alasannya. Suaranya bergetar... Dia menerangkan bahwa dia sudah siap menikah, dan bahwa yang terpenting baginya juga sama halnya denganku, yakni untuk memiliki pasangan yang baik sesuai kriteria agama. Tinggal di negeri liberal tanpa pasangan yang paham agama bisa menjadi sangat sulit, apalagi jika mulai memiliki anak dan harus mendidik mereka dengan aqidah yang benar, di tengah-tengah dunia sekuler dan hanya mengedepankan logika ini. Dia menjelaskan visi misi menikahnya dengan panjang lebar. 

Aku kebingungan sekaligus salah tingkah. Untunglah dia tidak berbicara sambil menatap mataku. Dia berbicara sambil menunduk, sementara aku menatap pepohonan dan langit di depan mesjid. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

"Untuk masalah finansial, tidak akan menjadi masalah. Kita akan makan dan hidup dengan layak meski tidak mewah," tambahnya lagi.

Hari itu adalah salah satu hari di penghujung musim panas. Hari Ahad terakhir bulan Agustus. Aku duduk mematung dan berusaha mengendalikan ekspresi wajahku yang saat itu rasanya sulit sekali untuk kukendalikan. Ingin rasanya mulutku kubiarkan menganga dan berseru, "apa???"  



Bersambung.

0 comments:

Post a Comment

Drop your comments here and tell me your thoughts about my post :)

Read This Too

Bohong — #MyTruthTheory

Aku paling tidak suka ketidakjujuran . Jujur adalah salah satu pokok hidupku . Jujur bahkan merupakan salah satu keahlianku...