Degup Empat Musim - My First Autumn, Winter, Spring and Summer Story


Pertama kalinya aku tiba di Schwäbisch Hall, saat itu Jerman sedang berada di penghujung musim panas. Cuacanya sudah tidak panas dan dalam waktu sebulan, suhu secara berangsur mulai mendingin. Seorang teman berkata bahwa aku beruntung sampai di Jerman ketika cuaca tidak lagi panas ekstrim. Saat itu aku tidak begitu mempercayai kata-katanya. Pikirku, mana mungkin musim panas Jerman lebih panas dari temperatur negeri tropis yang setiap hari, sepanjang tahun, dibanjiri terik matahari.


Hujan musim gugur di jendela
Musim Gugur 2018 ~ Herbst. Autumn.

Seiring suhu perlahan menurun, tibalah bulan Oktober. Dedaunan mulai bermetamorfisis menjadi kuning, oranye, merah, dan coklat... menandakan musim gugur telah menghampiri. Itu adalah musim gugur pertamaku. Indah sekali. Belum pernah aku menyaksikan secara langsung pepohonan berdaun warna-warni. Warna cantik khas musim gugur.

Suatu kali pada musim gugur, aku pergi ke Bad Urach dan Bodensee. Sepanjang perjalanan, aku melihat kanan kiri hutan dan Schwäbische Alb. Mataku terpaku melihat lukisan alam warna-warni yang memukau itu. Hampir tak nampak warna hijau. Yang kulihat itu seperti pemandangan cantik dalam kalender atau ilustrasi pada ensiklopedia musim gugur negeri empat musim.

Beberapa hari kemudian, wewarnian kuning, oranye, merah, dan coklat itu pelan-pelan mulai berguguran. Dari jendela kamar, aku melihat dedaunan itu berjatuhan perlahan dan tertiup angin. Jika aku keluar rumah, daun-daun itu mengikutiku. Lalu mereka berserakan dan setelah beberapa hari justru malah mengganggu, karena daun-daun tua itu terlalu banyak jumlahnya hingga terkadang menghalangi jalan.

Musim gugur terus berjalan dan suhu udara terus menurun. Orang-orang mulai mengenakan jaket jika keluar rumah, tengah hari sekalipun. Selama 2-3 hari pada musim itu, aku merasa udara terlalu dingin hingga aku menggigil pada malam hari sebelum tidur. Namun setelah itu, tanpa pernah aku sangka, badanku beradaptasi dengan sangat cepat. Aku memang tetap merasa cuacanya dingin setiap hari, tetapi aku tidak merasa itu mengganggu.

Udara terus mendingin dan siang hari mulai memendek. Matahari terbit terlambat dan tenggelam lebih dini. Musim dingin bersiap untuk menyapa. 

Pemandangan musim gugur dari jendela
 Musim Dingin 2018 - 2019 ~ Winter

Bulan Desember meniupkan angin yang lebih sejuk. Tanpa bisa dicegah, dimulailah musim dingin yang telah aku wanti-wanti dinginnya. Aku pikir, aku telah berhasil bertahan hidup dari suhu rendah musim gugur, akankah aku melalui musim dingin dengan gemilang juga?

Dari sudut mataku, aku menangkap kilasan titik-titik putih dari luar jendela ruang kelas. Kutengokkan kepala ke luar. Salju pertama turun. Lebat dan putih. Butiran salju itu jatuh ke tanah dan rerumputan, lalu menghilang seketika. Udara belum cukup dingin untuk membuat si putih terkumpul menjadi satu.

Salju terus berguguran dari awan di atas sana. Aku menatap takjub bintik-bintik putih di udara itu. Seorang guru di dekatku menengok pula ke arah jendela dan akhirnya menyadari bahwa di luar tengah hujan salju. "Wah, salju pertama," serunya. Ya, salju pertama. Aku pikir salju pertamaku akan kusaksikan bersama orang yang lain. Ternyata, di sinilah aku, bersama guru dan anak-anak di ruang kelas.

Aku menunggu dengan antusias ketika salju turun tiada henti dan gundukannya tersebar di mana-mana. Namun salju tak datang setiap hari pada awal musim dingin. Terkadang ia turun pada suatu hari, lalu menghilang tak ada kabar pada hari berikutnya. Ia mewarnai dinginnya hari dengan berselang-seling. Bahkan bisa juga ia pergi selama sepekan, lalu barulah ia muncul lagi dari langit.

Suatu hari pada hari sabtu di bulan Desember yang dingin, aku tengah terlelap dengan jaket tebal di balik selimut musim dingin. Saat itu mungkin tengah malam atau dini hari, aku merasa suhu tiba-tiba turun begitu rendah hingga badanku menggigil. Dingin sekali. Aku belum menyadari apa yang sedang terjadi di luar rumah.

Pagi hari sekitar pukul 9, barulah kutarik Rolladen jendelaku tanpa menduga apa-apa. Dan... kulihat di depan mataku, pemandangan putih yang sangat memesona. Semua permukaan yang ada, semuanya putih tertutup salju. Pepohonan, dedaunan yang masih bertahan dari musim gugur, atap rumah, jalan raya, jalan setapak, rerumputan, tak ada yang sempat bersembunyi dari derasnya salju yang turun semalam hingga sepanjang hari pada hari itu. Sungguh sangat indah.

Saat pertama kalinya melihat putih yang merata itu, sungguh, aku menganga. Kagum melihat pemandangan yang disuguhkan Allah kepadaku. Subhanallah, seruku tanpa aku sadar.

Hari itu aku memiliki janji temu dengan dua keluarga. Mereka mengundangku untuk berkenalan dengan anggota keluarga mereka dan bersantap malam bersama. Melihat pemandangan putih tadi, aku sungguh tak sabar untuk segera meluncur ke luar rumah. 


Dari balik jendela
Dengan antusias, kukeluarkan Stiefel 👢 (sepatu bot musim dingin), sarung tangan, dan syal yang selama ini aku nantikan untuk kupakai. Hari ini aku mungkin akan membeku, pikirku. Kukenakan semua perlengkapan itu, lalu dengan segera aku bergegas ke luar.

Putih. Sejauh mata memandang, putih. Tak kulihat lagi rerumputan di pekarangan rumah, semua seolah disulap menjadi putih.

Kutapakkan kaki dengan hati-hati, bisa saja licin, pikirku. Dan memang licin. Kuangkat kembali kakiku dan aku semakin antusias saat kulihat tapak sepatuku di atas salju. Aku berjalan lebih jauh lalu berhenti. Kudongakkan kepala dan kuperhatikan salju yang berguguran tiada akhir. 

Ternyata, salju bentuknya tidak bulat, melainkan tidak beraturan. Kubuka sarung tanganku dan kubiarkan butiran salju mendarat di permukaan kulit tangan dan wajahku. Ketika mereka mendarat di permukaan tanganku, bisa kurasakan partikelnya yang sangat lembut.

Kuraup segenggam dari salah satu tumpukan salju di pinggir jalan. Seperti es serut tetapi lebih lembut dan rapuh. Setelah beberapa lama, aku harus membuangnya kembali... dingin... telapak tanganku memerah kedinginan dan menjadi kaku.

Beberapa jam kemudian perang pecah di belakang masjid. Anak laki-laki ustadzku melancarkan serangan bola salju kepadaku.
Gumpalan-gumpalan putih itu mengenai jaketku dengan sangat cepat. Dasar bocah, aku pun tak mau kalah dan menyerang balik dengan senjata putih pula. Kami saling menyerang dan tertawa-tawa. 

Perang salju kami bahkan semakin seru dengan ustadzku yang ikut bergabung dalam wajib militer salju. Seperti anak-anak, beliau melancarkan bom-bom putih dengan ekspresi sungguh-sungguh bak di medan perang. Kalian harus melihat ekspresi beliau secara langsung. Lucu sekali.

Namun, pada bulan-bulan bersalju itu, tak hanya cantiknya salju dan udara dingin yang menguasai, melainkan juga kegelapan. Yang aku maksud dengan kegelapan adalah langitnya yang tak cerah, seolah matahari sedang bersembunyi. Kenyataanya adalah, bumi bagian utara tengah berada pada posisi condong menjauhi matahari dan bumi bagian selatan tengah berhadapan dan berdekatan dengan matahari. Oleh karena itulah penduduk bumi bagian utara menjalani hari-hari gelap nan dingin, sementara penduduk bumi bagian selatan tengah berpeluh-peluh dalam hangatnya musim panas. Mereka merayakan hari natal dan tahun baru dengan limpahan cahaya sang surya.

Baca juga: Pengganti Ibu di Negeri Salju


Winter Blues

Meskipun indah, tetapi ternyata antusiasme musim saljuku tak berlangsung selamanya. Hari-hari yang dingin dan gelap membawa serta suasana melankolis. Agak aneh rasanya ketika aku keluar pada pukul 6.30 dan suasana begitu gelap. Adzan subuh saja baru berkumandang pukul 6.15. Bahkan pada pukul 8.30, langit masih saja gulita. Tengah hari pun tak benar-benar cerah, kami memang sedang membelakangi sang pusat tata surya. Lalu pada pukul 4.30 sore, sinar matahari yang hanya sedikit itu sudah kembali tenggelam ditelan malam. Adzan magrib mulai berkumandang. Pukul 5 sore, suasana sudah gelap total. Bahkan waktu 'isya sudah tiba pada pukul 6. Dimulailah malam hari yang begitu panjang. 

Putih
Winters Lächeln ~ Winter's Smile

Namun, ada hikmah besarnya juga: kita bisa salat tahajjud pukul 5 pagi atau bahkan pukul 5.30 😄. Sungguh sangat menyenangkan. Begitu pula jika hendak shaum, santap sahur pukul 5.30 dan sudah kembali berbuka pukul 4.30. Puasa sekejap mata.

Setelah menjalani musim salju pertamaku, aku merasa musim dingin tidaklah seburuk yang aku kira. Badanku beradaptasi dengan sangat baik dan sangat cepat hingga aku merasa nyaman-nyaman saja pada suhu sangat dingin sekalipun. Lagipula suhu terdingin tidak mencapai minus belasan derajat seperti di negara-negara Skandinavia. Suhu terendah sejauh yang aku pantau melalui hand phoneku adalah -8°. Dan aku baik-baik saja.

Aku pernah terserang flu dan hidungku meler selama tiga hari pada bulan Desember, tetapi itu pun karena aku 'malas makan' selama dua hari sementara aku tetap bepergian keluar rumah pada dua hari yang dingi tersebut. Namun setelah aku meminum obat flu, badanku kembali sehat seperti sedia kala.

Musim dingin tahun itu tak sedingin tahun lalu, orang-orang bercerita kepadaku. Tahun lalu, sungai di pusat kota membeku dan orang-orang bermain-main di atasnya. 

Namun meski tak sedingin tahun kemarin, dinginnya tahun ini berlangsung agak sedikit lebih lama. Udara dingin terus berlangsung bahkan hingga bulan Mei, padahal musim semi sudah dimulai sejak akhir Maret. Orang-orang mulai mengeluhkan matahari yang belum terasa hangatnya. Berbeda denganku yang tak benar-benar merindukan matahari. Dikarenakan dingin berbulan-bulan itu, aku menjadi terbiasa dengan ketidakhadiran matahari.

Bulan Ramadan tahun ini juga masih berlangsung pada hari-hari yang dingin, padahal sudah bulan Mei. Hanya hari terakhir puasalah yang panas. Udara yang terlalu hangat membuat badanku lelah dan lemas.

Die Sonne. The Sun. Matahari. Panon Poé.

Kini musim panas tengah merajai. Di beberapa kota, suhunya bisa mencapai 41°!!! Aku tak bisa membayangkan betapa gerahnya itu. Untung saja di kotaku Schwäbisch Hall, temperaturnya tidak setinggi itu. Namun bukan berarti suhu di sini dapat dinikmati! Tetap saja rasanya sangat panaaasss....

Di Indonesia, suhu tertinggi yang pernah aku alami adalah 30°. Di Jogja tempat aku kuliah dahulu, angka ini adalah angka normal harian. Dan dengan angka setinggi ini saja aku sudah menderita. Setiap hari selama 4 tahun kuliah, aku selalu mengeluhkan udara yang bagiku terlalu panas. Kadang aku bahkan terserang sakit kepala akibat matahari Jogja yang begitu terik. Malangnya, sakit kepala itu menemani aktivitasku sepanjang hari 😭.

Di sini, awalnya aku pikir musim panas akan tetap sejuk, hanya matahari saja yang cerah ceria. Gambaran bule-bule yang kepanasan pada musim panas di berbagai film, ternyata adalah kenyataan. Dan... suhu tertinggi kota kami hingga bulan ini adalah... : ... 36°! 😅 Peluh... peluh... peluh... Badanku berubah menjadi sangat lemas. Mengapa aku merasa tak punya tenaga ya, tanyaku kepada salah seorang rekan kerja. Karena udara panas, jawabnya. Udara panas dapat membuat kita merasa lemas. Sebab badan kita tidak merasa nyaman, badan kita menjadi kelelahan karena berusaha untuk menyesuaikan diri dengan suhu yang berada di atas rata-rata.

Baca juga: Kok Pake Kerudung?

Badanku memang sedikit aneh. Sejak kecil aku memang sering punya masalah dengan terik matahari. Seolah kami tak pernah berteman baik, padahal aku adalah seorang gadis tropis tulen. Anehnya, berbeda dengan orang-orang, aku tak sakit jika kehujanan, tetapi justru sakit jika terlalu lama berada di bawah sinar mentari! Dan badanku tetap begitu hingga usia dewasa. Aku tak mengerti.

Seorang kawan Indonesia berjalan bersamaku suatu kali. Saat itu malam dan sangaaat dingiiin. Dia menggigil bukan main di sampingku. Aku pun kedinginan, tapi aku tak semenderita itu. Aku bahkan masih bisa bercanda dan tertawa. Sepertinya tubuhku memiliki mekanisme perlindungan diri dari suhu rendah yang cukup baik dibandingkan penduduk equator lainnya.

Bahkan kini setelah melewati musim dingin, suhu ideal bagiku adalah 14 - 20°. Suhu 9 - 11° saja masih tetap terasa nyaman bagiku. Anehnya, kini 25 ° sudah terasa hangat menurutku, aku bisa merasakan pancaran cahaya matahari pada punggungku, dan aku tidak terlalu suka.

Selain semakin tidak nyaman dengan udara panas, ada pula perubahan lainnya pada tubuhku. Sebelum terdampar di Jerman, aku tak pernah benar-benar membayangkan perubahan pada kondisi biologis badanku akibat cuaca ekstrim negeri subtropis. Aku tak punya gambaran nyata karena aku belum mengalaminya. Kini, sejak bulan Mei, termasuk selama Ramadan, terdapat perubahan yang tidak begitu baik. 


Schwäbisch Hall pada musim panas
Ngantuk Berat ~ My Sleepyhead Side

Perubahan yang kumaksud adalah jam tidur. Fajar menyingsing terlalu cepat. Pada bulan Ramadan (Mei), subuh dimulai antara pukul 3.30 pagi dan berubah perlahan menjadi pukul 4 pagi. Disebabkan dininya waktu subur, maka waktu sahur pun harus lebih dini lagi, yaitu antara pukul 3 atau pukul 3.30. Sementara itu, salat tarawih berakhir sekitar pukul 11.30 malam karena 'isya baru tiba pada pukul 10.30. Maklum, magrib saja pukul 9.30 malam.

Oleh sebab itu, waktu tidurku menjadi tidak normal. Hanya sekitar 3 jam saja. Meskipun kekurangan waktu tidur itu aku tebus pada pagi hari setelah subuh hingga pukul 7, dan atau pukul 4 sore setelah pulang kerja, tetap saja badanku tidak menerima itu sebagai sesuatu yang normal. Ditambah lagi, aku tidak selalu tidur pada pagi atau sore hari seperti yang telah kusebutkan itu, sehingga mataku selalu mengantuk hampir sepanjang waktu. Dan ini masih terus berlangsung hingga saat ini 😅. Pada akhir musim panas nanti, waktu 'isya akan berubah ke kisaran pukul 9.30 malam dan subuh pukul 5 pagi. Perlahan, semuanya akan berubah menjadi lebih baik.

Yah, ternyata, yang menjadi tantangan biologis bagiku justru bukan musim salju, melainkan musim panas. Aku rindu musim salju 😣.

Baca juga: Senandung Kabut Pagi (Cerpen)

Bodensee


Read This Too

Bohong — #MyTruthTheory

Aku paling tidak suka ketidakjujuran . Jujur adalah salah satu pokok hidupku . Jujur bahkan merupakan salah satu keahlianku...