Ngapain Sih Pake Kerudung?


Bismillaah. Sebelumnya, lewat post ini saya nggak bermaksud untuk menyinggung siapa pun, saya hanya ingin menuliskan cerita saya :) bagi teman-teman yang belum berkerudung, tentu saja kita akan tetap berteman baik seperti biasanya.

Mari langsung mulai, begini cerita saya...
Saat SD, salah satu teman saya berkata bahwa kakaknya sekarang berkerudung. Kakak ini saat itu kelas satu SMA. Entah mengapa saya merasa itu keren. Saya berpikir, nanti kalau sudah besar saya mau pakai kerudung juga...

Saat SMP, banyak di antara teman-teman saya yang berkerudung, sehingga lingkungan menutup aurat menjadi lebih akrab. Apalagi sekolah kami memang mewajibkan seluruh siswi yang muslimah untuk memakai rok panjang dan mengenakan kerudung yang diseragamkan sesekolah. Tapi semasa SMP ini, saya hanya memakai kerudung ketika di sekolah dan ketika bepergian ke rumah teman atau belanja ke pasar bersama ibu. Selain itu, di lingkungan rumah, misalnya ke warung di samping rumah atau ngambil jemuran, saya gak repot-repot menutupi kepala saya.

Ada hal unik yang saya rasakan saat SMP. Walaupun belum konsisten untuk menutup aurat, tapi ketika saya keluar rumah dengan memakai kerudung, saya merasa terlindungi. Entah terlindungi dari apa, pokoknya saya merasakan perasaan yang sangat tenang dan dilindungi. Menyenangkan dan menenangkan sekali rasanya.

Kemudian saat mulai masuk SMA, perjalanan kerudung saya mengalami peningkatan. Ternyata semuanya berproses, tanpa saya sadari. Saya mulai mencoba untuk memakai kerudung meskipun itu hanya ke warung sebelah rumah atau menjemur pakaian, walaupun belum konsisten. Tapi lama-lama, perasaan untuk menutup aurat seluruhnya mulai terasa mendesak. Perlahan-lahan saya mulai merasa tidak nyaman dan tidak aman jika mengambil jemuran tanpa ada kain yang membalut kepala saya. Karena meskipun hanya sebentar, tetap saja itu mengumbar aurat, dan saya mendapatkan dosa dari tiap helaian rambut yang terlihat oleh non mahram.

Pada masa kuliah, saya sudah lebih terbiasa untuk mengenakan kerudung meskipun hanya untuk membeli garam ke warung sebelah rumah sekali pun. 'Repot' sih, sebelum meluncur ke warung saya harus celingukan sana-sini dulu: "nyangkut di mana tadi kerudung saya? di tangga? di kursi? di kamar?"

Masih pada masa SMA juga, ada cerita dari sebagian teman-teman saya yang awalnya tidak berkerudung. Mereka akhirnya ´hijrah´ dan mulai menutup aurat mereka yang berharga dan cantik itu. Awalnya mereka tidak punya ketertarikan sama sekali lho untuk menutup ribuan lembar rambut indah itu, lalu perlahan-lahan, ataupun tiba-tiba, mereka mendapat hidayah untuk melilitkan selembar kain di kepala dan menyembunyikan seluruh rambut. Bagi saya, saya merasa tidak pernah melakukan perjalanan ´hijrah´ seperti mereka, proses yang saya alami terasa alami dan ´begitu saja,´ tidak ada perasaan semacam ´aku harus menutup aurat mulai saat ini!´ :D

Yah, bagaimanapun sejarahnya, yang terpenting adalah menutup aurat. Menutup aurat adalah salah satu perintah besar agama yang semua ulama manapun sepakat dan tidak ada satu pun yang berbeda pendapat mengenai kewajiban menutup aurat ini, khususnya dalam hal menutup aurat bagi perempuan.

Sewaktu SMA ini pula, sebagian dari teman-teman saya yang saat itu belum berkerudung, menjawab "belum siap," ketika ditanya kenapa kamu gak pake kerudung?

Sebagai seseorang yang sarkastis, sebetulnya saya ingin menimpali, "diajakin ke surga kok malah bilang belum siap? mau ngunjungin neraka dulu? jawabanmu gak masuk akal."

Tapi instead of nyeletuk gitu, saya cuma menggumam, "hmm oke."

Maaf ya kalau terlalu sarkastis :D bukannya saya kepedean bakal masuk surga, tapi karena alasan seorang perempuan gak menutup aurat itu bagi saya tidak bisa diterima logika. Bayangkan saja, setiap helai rambut yang dilihat non mahram akan dicatat sebagai dosa. Ada berapa ribu lembar rambut yang kita miliki? Menurut baumanmedical.com, rata-rata rambut di kepala manusia adalah 100.000 sampai 110.000 helai!

Ketika kuliah, jawaban teman yang belum berkerudung berubah lagi trend-nya, mereka menjawab, "aku belum bisa pakai kerudung karena belum bisa konsisten. Percuma kalau lepas-tutup  ~  lepas-tutup. Percuma kalo pake kerudung tapi perilakunya belum baik." Bagi saya itu terdengar sebagai alasan yang mengada-ngada, karena jika seorang muslimah berniat dengan ikhlas lillahi ta´ala untuk menutup aurat, maka kerudung itu sendiri yang akan menuntunnya menjadi orang yang lebih baik, menjadi konsisten secara perlahan-lahan.

Kalau mau menunggu sampai menjadi baik, kapan mau mulai pakai kerudung? Apa kriteria 'baik' yang kamu maksud? rajin tahajud? rajin dhuha? rajin shadaqah? rajin menabung? pacaran gak pegangan tangan? Parameter 'baik' setiap orang saja bahkan berbeda-beda.

Justru Allah akan menimbulkan perasaan malu, baik itu perlahan-lahan maupun spontan, ketika hendak berbuat maksiat... sebab dari luar semua orang sudah melihat kamu berkerudung dan terlihat ´baik´ atau ´shalihah.´

Namun betul, memang butuh proses. Tapi kalau tidak dimulai, atau menunggu hidayah, kapan kamu akan menjadi baik dan dirindukan surganya Allah? Hidayah itu lebih cocoknya ´dijemput,´ bukan ´ditunggu.´ Memangnya angkot atau bus kota? Pede sekali menunggu ´hadiah´ hidayah ketika diri ini menyadari amalan perbuatan kita bahkan jauh dari rahmat-Nya.

Kalau mau terus menunggu sampai Allah mengirimkan hidayah padamu, pertanyaanya adalah: kapan hidayah itu akan datang (kalaupun itu benar-benar akan dikirimkan)? Jadi, kamu akan dengan senang hati memanen dosa aurat selama belum dapat hidayah? Bagaimana jika Allah memang tidak hendak memberimu hidayah, karena Dia ingin kamu yang berinisiatif sendiri menjemput hidayah tersebut? Bagaimana jika Allah tidak mengirimkan hidayah tersebut dan kamu justru sudah keburu dipanggil-Nya? Kamu mau bertemu dengan-Nya dengan penampilan yang tidak layak?

Kalau kamu mengerudungi kepalamu, insya Allah, perlahan-lahan kamu akan mengerudungi hatimu agar perilakumu sesuai dengan ´baik´-nya kamu terlihat dari luar.

Selain itu, jika kamu merasa: kalau aku pake kerudung (atau sudah pake kerudung) tapi tetap banyak melakukan maksiat, apa gunanya, itu malah munafik. Jika kamu punya pemikiran semacam itu, maka introspeksilah. Lirik kembali shalatmu. Kalau shalat kita sudah benar, maka shalat kita akan mencegah kita dari perbuatan keji dan munkar. Kalau kita masih gemar bermaksiat, kemungkinan besar ada yang salah dengan kualitas shalat kita. Entah itu dari kekhusyuk-an, ketepatan waktu (menyegerakan atau menunda), atau malah ada yang bolong-bolong shalatnya. Yang masih suka bolos shalatnya, bahaya tingkat paling ekstrim nih. Karena kalau nggak shalat, amalan ibadah kita yang manapun nilainya jadi 0. Bangunan amal shalih kita runtuh luluh lantak karena nggak ada tiangnya.

Yang menulis bukannya sudah baik, tapi hanya ingin berbagi sedikit cerita tentang indahnya berdekatan dengan Allah melalui keseharian kita yang hanya begitu-begitu saja, tetapi diridhai oleh Sang Mahapenyayang dan Mahapengampun. Yuk, segerakan amalan kebaikan kita. Jika ada orang yang berkerudung tapi perilakunya masih begini dan begitu, maka dia masih berproses menjadi baik, sebagaimana kita semua. Tidak semua orang yang berkerudung itu kualitas agamanya baik, tapi semua orang yang agamanya berkualitas baik sudah tentu menutup aurat dengan baik dan benar, karena dia takut akan digantung di neraka dengan rambut yang ia banggakan dahulu di dunia.

Bagaimanapun juga, tidak bisa dipungkiri, orang yang menutup aurat dengan baik dan benar itu memang berbeda kualitasnya dengan yang belum menutup aurat. Seperti dua buah permen yang dilemparkan ke tanah. Satu permen terbungkus rapi dengan kemasannya sendiri, satu permen lainnya tanpa kemasan. Yang tanpa kemasan tentunya berpotensi terkontaminasi ini itu kan? Secara naluriah kita akan memungut yang masih terbungkus rapi dan bersih.

Apa tips agar mudah untuk menjemput hidayah? 1) Akrabkan diri dengan orang-orang shalih. Hadirilah majlis ilmu. Motivasi dan rencana untuk menjadi baik tidak bisa dicapai sendirian, kamu harus memiliki komunistas shalih yang mempengaruhimu dan mengajakmu untuk menjadi lebih baik :)
2) Niatkan karena Allah dan lakukan dengan perlahan-lahan, tidak perlu langsung pakai kerudung lebar, pakai rok, dan baju super longgar. Coba setahap demi setahap dari yang kamu bisa. Toh kerudung dan baju yang syar´i juga harus dibeli, gak akan tiba-tiba muncul di lemarimu :) Tapi kalau mau langsung berubah drastis, ya nggak apa-apa kalau memang sudah siap ;)

Subhanaka Allahumma wa bihamdika asyhadu alla ilaah illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik.

34 comments:

  1. Jadi teringat pesan alm.ayah saya ketika pertama kali saya pakai kerudung, "Nak jangan pernah di lepas lagi ya kerudungnya," :') Masha Allah ceritanya Mba, semoga istiqomah dan semakin baik lagi.

    ReplyDelete
  2. Masha Allah, baca ini jadi ingat, saya sudah 15 tahunan dong berjilbab, dan masih terus belajar dan belajar.
    Terutama lepasin celana jeans di lemari :D

    Semoga bisa selalu istiqomah menutup aurat dengan benar selayaknya Allah perintahkan aamiin.

    Dan memang benar ya, semua juga tergantung dari pergaulan :)

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah, hidayah ALLAH memang harus dijemput, ya.
    Semoga kita senantiasa istiqomah menutup aurat sesuai perintah dan petunjuk ALLAH.
    Aamiin aamiin ya robbal alamiiin

    ReplyDelete
  4. Semoga tetap istiqomah ya dan menjadi pribadi yang makin bijaksana.

    ReplyDelete
  5. Kerudung, hijab, khimar, sekarang semua jadi mudah. Jaman dulu saya sekolah masih sulit banget untuk memakai ini. Sekarang jaman sudah berubah dan apa-apa jadi mudah. Semoga makin banyak perempuan yang selalu istiqomah ya k, karena ini kewajiban bukan anjuran, bagi saya sih hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, selama kata agama wajib, buat saya juga wajib :)

      Delete
  6. Alhamdulillah saya sudah mulai berhijab di tahun ketiga kuliah Mbak. Meskipun agak terlambat ya, tetapi saya bersyukur mendapat hidayah sebelum terlambat. Sekarang masih terus berproses untuk menjadi lebih baik lagi. Terima kasih motivasinya Mbak, tulisannya bagus sekali.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak terlambat kak, terlambat itu kalau sudah nggak ada umur *ups hehe

      Delete
  7. Karena menutup aurat adalah kewajiban untuk wanita. Kita memang perlu menyampaikan tetapi hidayah hanya Dia yang nentuin mau kasih ke siapa. Semoga semakin banyak yang mendapatkan hidayah untuk menutup aurat, ya, Mbak

    ReplyDelete
  8. Wiwin | pratiwanggini.netApril 8, 2020 at 4:58 AM

    Saya mengenakan kerudung sejak punya anak pertama. Artinya itu sudah 17 tahun yang lalu. Waktu itu bukan karena niat hijrah. Entah kenapa tiba-tiba saja saya pengin mengenakan kerudung. Itu terjadi ketika saya masih cuti melahirkan. Begitu masuk kerja lagi, penampilan saya sudah berubah 180 derajat dibandingkan sebelum cuti melahirkan.

    ReplyDelete
  9. Wah bicara pengalaman berhijab, saya juga naik turun. Baru mantab sekali tahun 2013, setahun sebelum menikah. Memang tak bisa dipaksakan, takutnya setengah-setengah. Yang harus ditekankan memang hijab itu wajib, akhlak mengikuti, ya kan mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, wajibnya menutup aurat nggak bisa ditawar-tawar

      Delete
  10. bener banget ini mba, setiap perempuan itu seluruh tubuhnya fitnah. menutup aurat hal yang wajib. saya pun sadar sewaktu kuliah dan ingat banget bahwa dosa anak perempuannya yang tak memakai kerudung itu juga dosa bapaknya. jadinya setelah itu pakai kerudung, takut bapak saya kena dosa. padahal beliau udah ngasih tau saya untuk pakai kerudung. semoga kita semua istiqomah ya mba. Aamiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin...
      Bukan cuma bapaknya, suami sama saudara laki-lakinya kena juga Kak... hmm

      Delete
  11. Semoga kita selalu istiqomah ya, Mbak. Soal kerudung memang kewajiban, semoga semua muslimah mendapat hidayah untuk menutup auratnya.

    ReplyDelete
  12. Subhanallah ceritanya menginspirasi Mbak Alvianti, semoga kita selalu istiqomah dalam jalanNya ya. Soalnya yang kurasa, untuk memulai memakai kerudung itu mudah tetapi untuk mempertahankannya itu penuh jalan yang berlubang, tssaah

    ReplyDelete
  13. iya mbak sering banget denger jawaban klise gt klo perkara hijab. apakagi sekarang aku dapati malah kemunduran alias yg hijab malah dilepas atau yg td syar'i malah jadi sreeeet gitu.huhu. terimakasih pengingat ya mbak alvi..smg kita slalu istiqomah

    ReplyDelete
  14. Betulll.. teman sgt berpengaruh. jk punya tmn shalihah kt bakal ditarik k aura positif mrk

    ReplyDelete
  15. Inspiratif ceritanya mbak..
    Klo aku pakai kerudung pas kelas 2 SMA

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga dari SMA, tapi waktu itu belum konsisten

      Delete
  16. Setahap demi setahap. Ini bener banget, ya mbak. Sambil memantapkan hati dan terus belajar untuk menutupi semua bagian tubuh dan hati kita supaya lebih syar'i

    ReplyDelete
  17. Menutup aurat memang suatu hal yang wajib. Hal ini bisa kita tularkan kepada yang belum mengenakan dengan cara yang halus tentunya. Terkadang dengan ancaman dan penilaian soal dosa malah tidak mempan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya kak, aku juga sama temen-temen yang ga berkerudung ga men-judge apalagi menghujat. Ga ngejauhin mereka juga, malah berteman baik, sayang banget sama mereka ❤
      Tulisan saya di atas ga pernah saya cetuskan secara verbal langsung sama temen-temen yang belum berhijab, cuma ada di kepala saya aja sebagai cerita hidup dan self reminder 😀

      Delete

Drop your comments here and tell me your thoughts about my post :)

Read This Too

Bohong — #MyTruthTheory

Aku paling tidak suka ketidakjujuran . Jujur adalah salah satu pokok hidupku . Jujur bahkan merupakan salah satu keahlianku...