Roti, Salad, dan Keju: Culture Schock Makan di Jerman


Budaya baru memang selalu menarik untuk diulik, termasuk budaya makan! Budaya makan sambil lesehan dan menggunakan tangan secara langsung tanpa sendok garpu, bagi orang Indonesia memang bukan hanya menyenangkan, melainkan juga sunnah. Namun, kebiasaan ini belum tentu dianggap biasa dan menyenangkan juga oleh masyarakat dari negeri sebrang, sebrang dunia di semenanjung besar Eropa sana. Inilah beberapa pengalaman lucu saya soal makan dan makanan di negerinya Mbah Goethe.

Saya selalu berpikir bahwa saat makan bersama orang Jerman, saya harus mengikuti tata krama makan mereka dengan baik, kalau tidak, mereka mungkin akan menganggap saya tidak sopan dan tidak tahu adab. Maka, pertama kalinya saya makan dengan mereka, saya berusaha untuk mematuhi peraturan meja makan mereka.

Saya lirik orang-orang di sekitar saya, mereka semua memulai ritual makan dengan memotong Brötchen (roti) menjadi dua bagian. Saya tiru langkah mereka. Saya potong roti saya dengan pisau: tidak berhasil, pemirsa. Rotinya alot!

Roti macam apa ini, pikir saya. Kalau dijual di Indonesia, pasti tidak akan laku. Roti kita selalu menawarkan tekstur lembut yang membuat kita tak perlu repot-repot mengunyah lama. Sementara di sini, saya merasa roti-roti itu terasa terlalu keras untuk disebut roti, terutama bagian luar atau pinggirannya. Kamu harus benar-benar sudah bangun dan melek untuk dapat memotong dan mengunyah roti.

Demi menjaga citra kesopanan saat makan, saya tetap berusaha untuk membelah roti saya menjadi dua bagian dan tidak justru menggigitnya langsung. Pada akhirnya berhasil juga, tetapi roti saya tidak menjadi dua belahan yang cantik. Roti saya terbelah tidak beraturan, akibat proses pemotongan yang dipaksakan dan tidak profesional seperti orang Jerman.

Belakangan saya baru tahu, bahwa roti yang ada di Indonesia hanyalah roti bakar, bukan jenis roti yang saya santap di atas. Roti yang saya makan pertama kali di Jerman tersebut teksturnya memang tidak selembut roti tawar maupun roti sobek atau roti kasur di Indonesia. Roti ini juga mengenyangkan meskipun hanya dilahap sepotong atau dua potong saja, berbeda dengan roti tawar kita yang tidak membuat kenyang bahkan jika dimakan lima potong sekalipun!

Nah roti kita ini di Jerman disebut weißes Brot (roti putih) atau Toastbrot (roti bakar) dan tidak dikonsumsi sebagai makanan pokok. Sementara roti yang dikonsumi masyarakat Jerman secara umum sebagai makanan pokok, ada banyak sekali macamnya dan memang benar-benar mengenyangkan, berbeda dengan roti lembut kebanggaan kita!

Selain kisah roti, masih ada penggalan cerita lucu lainnya, yaitu tentang Besteck (sendok, garpu, pisau). Sebagai orang USA (Urang Sunda Asli), tentu saja saya gemar makan menggunakan tangan secara langsung. Di sini, orang makan dengan garpu dan pisau. Semua orang memang sudah tahu soal itu, tetapi mengalaminya secara langsung ternyata merepotkan juga.

Pada suatu siang pada pekan ketiga saya di Jerman, saya duduk di sebuah ruang makan. Saya hendak makan siang dengan empat orang lainnya yang merupakan orang Jerman. Meski hanya ada kami saja di ruangan itu, meja makan dan semua benda yang berada di atasnya ditata dengan sangat rapi dan indah. Ternyata bagi orang Jerman, meja makan itu idealnya memang harus dipersiapkan dan dipercantik dengan sangat baik, minimal ada dekorasi bunga di tengah-tengah meja yang dikelilingi dengan hidangan siap santap dan peralatan makan yang ditata rapi di depan setiap kursi.

Ketika makan dimulai, saya berusaha untuk makan dengan elegan menggunakan garpu dan pisau, bukan sendok apalagi tangan kosong. Namun pemirsa, ternyata ini menjadi agak lucu. Pisau saya tergeletak begitu saja di samping piring, saya tidak terbiasa memotong makanan terlebih dahulu, sebelum saya masukkan potongan-potongan hambar (masakan Jerman tidak sespektakuler masakan Indonesia yang kaya rempah) itu ke mulut. Saya hanya terbiasa memotong makanan langsung dengan gigi atau sendok.

Selain itu, dengan lucunya saya memperlakukan garpu di tangan kanan saya sebagai sendok! Itu saya lakukan secara otomatis, karena seharusnya sendoklah yang berkuasa di tangan kanan saya, bukan garpu. Namun, sayangnya sendok hanya akan ikut hadir di atas meja apabila santapan kita berkuah atau dibanjiri saus yang melimpah ruah.

Pada akhirnya, saya cukup bisa menikmati makan, meskipun agak kerepotan menyendoki salad dengan garpu.

Seharusnya saya menggunakan garpu untuk menusuk makanan dan selanjutnya dilayangkan ke mulut. Namun, jiwa Indonesia saya terlalu kuat hingga sampai sekarang pun saya tetap tanpa sadar memperlakukan garpu sebagai sendok.

Fungsi pisau baru saya sadari keberadaannya ketika saya lihat tetangga di depan saya memotong dan mendorong potongan makanannya ke garpu menggunakan pisau. Ya sudahlah.

Usai makan, muncul lagi keheranan saya: orang Jerman tidak repot-repot menghabiskan makanan mereka jika merasa sudah kenyang atau karena sekadar tidak mau. Mereka lebih rela membuang makanan mereka daripada harus melahap habis isi piring mereka, termasuk jika piringnya masih utuh sama sekali! Bagi saya itu benar-benar aneh! Mana bisa makanan dibuang secara percuma begitu saja?

Tidak hanya masakan, sebagian dari mereka bahkan merasa biasa saja membuang salad! Ya, itu adalah sayuran segar, saudara-saudara. Mereka hanya akan bertanya terlebih dahulu, “masih ada yang mau? Tidak ada? Semua sudah makan, bukan?“ lalu salad yang malang itu segera berakhir di tempat sampah! Selada, wortel, timun, zucchini, dan kerabat-kerabat mereka lainnya yang masih muda dan segar. Sayang sekali, membawa pulang makanan yang tak habis dimakan tidak merupakan bagian dari budaya Jerman.

Suatu kali, saya bahkan pernah melihat seorang gadis membuang sebuah apel segar dari nampan makan siangnya ke ember penampung makanan sisa. Plung, apel itu dijatuhkan begitu saja oleh pemiliknya. Saya berpikir, kalau kamu tidak mau, lalu mengapa kamu ambil apel itu tadi? Biarkan saja dia tertumpuk manis dengan kawan-kawannya! Dan mengapa dibuang, mengapa tidak dibawa saja? Seberat itukah membawa sebuah apel? Jiwa 'cinta lingkungan' saya membara.

Keheranan selanjutnya, orang Jerman tidak berbagi makanan. Saya tidak menilai orang Jerman sebagai orang yang pelit. Hanya saja, kebiasaan saling menawarkan makanan sangat jarang terjadi di sini. Berbeda dengan kebiasaan di Indonesia yang selalu secara otomatis menawarkan makanan yang kita bawa bahkan sebelum kudapan itu kita cicipi sendiri.

Berdasarkan pengalaman yang saya alami setiap hari, bagi orang Jerman berlaku asas ‘makananku adalah milikku, makananmu adalah milikmu dan kita tidak perlu saling berbagi'. Bahkan jika ada anak yang ingin mencicipi makanan yang sedang disantap guru mereka, bapak atau ibu guru mereka tidak mengizinkan mereka mencicipi sedikit pun. Mereka justru berkata, “tidak boleh, ini punyaku.“ Sungguh saya merasa itu adalah pemandangan yang lucu pada masa-masa awal saya di Jerman.

Bagi saya, jika anak-anak ingin mencicipi makanan kita, ya tidak masalah, lagipula saya tidak merasa bekas gigitan mereka menjijikan.

Keheranan terakhir adalah keheranan pada diri saya sendiri. Sekitar lima bulan pertama di Jerman, saya tidak bisa melepaskan diri dari belenggu nasi. Hingga pada suatu hari saya mencoba Fladenbrot atau roti pipih khas negeri-negeri Arab. Fladenbrot dijual di setiap toko Arab dan Turki di seluruh Jerman, mungkin juga di seluruh dunia, sebab orang-orang Arab tidak mengonsumsi 'roti orang Jerman' sebagai makanan pokok mereka. Roti pipihlah yang menjadi andalan mereka dan mengejutkan sekali: meskipun sangat tipis, roti ini mengenyangkan sebagaimana roti Jerman.

Setelah sekitar dua pekan membiasakan diri mengonsumsi roti pipih, akhirnya saya terbiasa dan tidak lagi mengingat-ngingat nasi! Sekarang saya mengerti mengapa bule dan orang Arab tidak kelaparan meskipun mereka tidak mengonsumsi nasi, ternyata yang terpenting adalah asupan karbohidrat, bukan menanak nasi. Tubuh kita akan berlapang dada tidak menerima pasokan nasi, jika kita membiasakan diri untuk mencerna sumber karbohidrat yang lain.

Itulah sebagian pengalaman lucu saya di Jerman. O iya, meskipun masakan Jerman bagi saya terasa hambar, ada satu (setidaknya ada satu) hidangan Jerman yang sangat saya suka dan selalu saya tunggu-tunggu: Käsespätzle. Spätzle adalah sejenis pasta khas daerah Schwäbisch. Käse berarti keju, dan Käsespätzle adalah hidangan Spätzle yang ditimbun dengan keju parut yang disajikan meleleh 😵. Lalu Käsespätzle akan disiram dengan saus bawang bombay ataupun bawang bombay goreng. Rasanya… luar biasa! 

Schwäbisch Hall dan Corona


Per hari ini, Selasa, 7 April 2020, jumlah orang yang terinfeksi Virus Corona di Jerman adalah 105.519 jiwa (arcgis.com) dan jumlah kematian yaitu 1.607 jiwa (rki.de). Peringkat pertama adalah Amerika Serikat dengan jumlah 378.289 jiwa, disusul Spanyol sebanyak 140.511 jiwa dan Italia 132.547 jiwa. Mengejutkan sekali melihat posisi Jerman, rumah saya saat ini, memiliki jumlah terkonfirmasi hampir semasif Italia.

Di bawah Jerman sendiri ada banyak negara yang peningkatan infeksinya pesat, seperti Perancis, China, Iran, Inggris, Turki, Swiss, Belgia, Belanda, Kanada, Austria, Portugal, Brazil, dan Korea Selatan. Rentang selisih angka infeksi negara-negara ini adalah 10.000 hingga 20.000. Tingginya lonjakan jumlah terinfeksi di Eropa membuat Korea Selatan sudah bukan lagi negeri 'paling kasihan' akibat Covid-19, begitu juga China yang menjadi titik awal merebaknya Corona.

Di bawah Korea Selatan adalah israhell dengan jumlah konfirmasi sebanyak 9.006 jiwa, lalu disusul oleh berbagai negara, salah satunya Indonesia di peringkat 37 (2.738), yang jumlahnya sedikit lebih baik dari Arab Saudi dengan angka 2.795 (akankah haji tahun ini ditiadakan? ☹️). Sementara itu, jumlah terkecil adalah di Sudan Selatan dan Timor-Leste, masing-masing sebanyak satu jiwa.

Di Schwäbisch Hall, kota tempat tinggal saya di Jerman, terdapat 722 kasus dengan jumlah korban meninggal dunia sebanyak 19 orang. Data ini saya dapatkan dari swp.de per Selasa, 7 April 2020.

Jerman sebagai salah satu negara maju, dan kaya tentunya, memiliki fasilitas kesehatan yang jauh lebih baik dari Indonesia. Sebelum pasien pertama muncul di kota kami, rumah sakit Kota Schwäbisch Hall telah menyatakan siap jikalau ada warga kota yang positif terpapar Corona. Hingga kini pun ketika jumlah korban terus bertambah, rumah sakit masih tetap dapat menangani pasien dengan baik tanpa kesulitan besar seperti yang terjadi di Indonesia. Pihak rumah sakit bahkan siap untuk menambah ruang isolasi yang baru jika diperlukan. Tak hanya itu, beberapa negara bagian di Jerman bahkan menerima pasien Corona dari Perancis, sebagai bentuk solidaritas kepada negeri tetangga. Sayang sekali tanah air kita tidak bertetangga dengan Jerman.

Saya tidak takut, saya juga tidak panik. Namun saya tetap memantau perkembangan Corona di Jerman dan di kota saya khususnya. Melihat kondisi di Schwäbisch Hall yang terlihat 'cukup terkendali,' saya jadi miris melihat kondisi medis Indonesia yang serba tak siap dan banyak kekurangan. Saya sering melihat foto-foto dokter dan perawat Indonesia di media sosial yang berjuang di garis terdepan dengan berbekal senjata 'seadanya.' Tertidur 'berserakan' dan kelelahan dengan jam kerja yang 'menggila.' Sungguh pemandangan yang berbeda dengan kota saya di sini. Saya hanya bisa berdoa semoga ibu pertiwi dan seluruh dunia segera pulih dari pandemi ini.

Lalu, bagaimana kondisi Jerman lebih jauh lagi?

Jerman tidak menerapkan lockdown, Jerman hanya menarapkan Kontaktverbot atau larangan kontak. Peraturannya seperti ini: 1) pertemuan di luar rumah hanya diizinkan dengan maksimal satu orang lainnya saja dan harus menjaga jarak setidaknya 1,5 meter. Namun hal ini dikecualikan bagi anggota keluarga, atau bukan anggota keluarga tetapi tinggal satu atap. Sementara itu, pergi ke luar rumah seorang diri untuk berolah raga atau menghirup udara segar tetap diperbolehkan, termasuk membawa hewan peliharaan untuk berjalan-jalan. 2) Pergi bekerja, jika work from home tidak memungkinkan. 3) Berbelanja. 4) Perawatan darurat. 5) Pergi ke dokter. 6) Menolong orang lain secara umum. 7) Menghadiri pemakaman, dengan jumlah terbatas dan jarak yang cukup untuk setiap orang. 8) Pindah rumah, jika sama sekali tidak bisa ditunda. 9) Menggunakan transporasi umum. Khusus untuk bis, penumpang tidak diperkenankan naik dari pintu depan bis yang berhadapan langsung dengan sopir, melainkan dari pintu keluar bis yang berada jauh dari sopir. Di dekat sopir juga dipasang garis batas merah-putih yang memisahkan area sopir dan penumpang. Sopir bis juga tidak melayani lagi pembelian tiket langsung, pembelian tiket hanya dapat dilakukan secara online.

Secara umum, saya tidak menilai warga kota dalam kondisi panik. Hanya saja, kota kami terasa sepi. Bagaimana tidak, semua sekolah dan universitas libur, kebanyakan perkantoran dan toko tutup, dan tidak banyak orang yang lalu lalang di pusat kota. Saat ini musim semi baru saja dimulai dan cuaca hampir selalu bagus, tetapi orang-orang tetap tinggal di rumah.

Bagaimana dengan pasar? Pasar loak sudah tidak ada :D di Jerman, pasar loak sangatlah digemari. Orang dari berbagai kalangan sering membeli berbagai barang dari pasar loak, karena memang kualitasnya masih bagus dan harganya murah (tidak semua orang Jerman selalu membeli barang baru). Namun pasar yang menjual bahan makanan tetap diizinkan, seperti Pasar Sabtu di kota saya misalnya. Selain itu, pasar swalayan tentu saja tetap buka. Di pasar swalayan, bahan makanan cenderung cepat habis. Pihak toko sampai memasang pengumuman untuk membatasi bahan-bahan yang paling cepat habis, di antaranya: tepung dan gula (pembelian maks. masing-masing 3 kemasan), susu (maks. 1 kemasan), tisu toilet dan tisu makan (maks. 2 kemasan).

Beras tak jadi incaran utama di sini, sebab makanan pokok warga Jerman sangat beragam, di antaranya adalah roti, kentang, bulgur, beras, dan pasta. Namun beras bukanlah primadona. Di sini, tisu toilet lebih banyak diburu dibandingkan beras. Pada bulan Maret lalu, banyak orang berbondong-bondong membeli tisu toilet, khawatir tak bisa 'bersih-bersih' usai menyelesaikan hajat di wc. Saya merasa itu sangat lucu, bukankah air membersihkan jauh lebih baik daripada tisu yang lembaran itu? Saya tak habis pikir mengapa orang Jerman tak mempertimbangkan air untuk urusan yang satu ini. Bahkan ada orang yang menjual tisu toilet dengan harga mahal di ebay, salah satu platform jual beli online. Ternyata orang aneh memang ada di mana-mana.

Untungnya, persedian segala macam barang dan bahan makanan di Jerman selalu aman. Produk-produk yang baru selalu kembali memenuhi rak, menggantikan segala hal yang habis pada hari sebelumnya. Begitu juga dengan harga, harga tetap aman dan stabil, tidak naik melejit hanya karena banyak dicari. Yang disayangkan adalah cabe. Sulit sekali menemukan cabeyang pedasdi sini. Yah, baik ada Corona maupun tidak, cabe pedas selalu langka di sini :(

Selain cabe, masalah yang saya rasakan di sini adalah masjid. Sudah lebih dari sepekan ini masjid tutup. Sepekan sebelumnya, masjid masih tetap boleh dikunjungi, hanya saja tidak ada shalat berjama'ah dan tidak ada pengajian bersama setelahnya. Sejak sekitar sepekan lalu, pengajian rutin dengan ustadz dan kawan-kawan saya yang lain diadakan secara online. Kami mengaji melalui whatsapp. Sayang sekali, tetapi semua pihak memang harus secara serius mencegah penyebaran Corona. Semoga Allah segera mengangkat wabah ini, semoga kita semua selalu dilindungi Allah melalui cara apa pun...

Berikut adalah galeri foto Kota Schwäbisch Hall pada Hari Ahad.


Mesjid Mevlana di Schwäbisch Hall








Di Penghujung Musim Panas


Hari itu, aku hendak mencetak selembar dokumen. Tapi hari itu hari ahad, semua toko tutup, sementara aku ingin mengirimkan scan-an dokumen itu hari itu juga. Aku lalu berpikir, aku bisa meminta seorang teman mengajiku untuk mencetak kertas itu di rumahnya.

Kuhubungi dia lewat sms, tetapi dia tidak membalas. Aku rasa dia lebih mudah dihubungi lewat whatsapp, sayangnya aku tidak punya nomor whatsapp-nya. Akhirnya aku pergi ke mesjid untuk shalat 'ashr dan berharap dia pun hadir pula di sana.

Aku berjalan kaki ke mesjid. Aku berpikir, jika dia hadir pula, maka segera setelah shalat aku akan mencegatnya sebelum ia sampai ke pintu keluar.

Setibanya di mesjid, aku segera berwudhu dan masuk ke ruang shalat perempuan. Dari lantai dua itu aku mengintip jamaah laki-laki di lantai bawah. Di antara jamaah shalat yang hanya beberapa orang itu, aku melihat seorang teman mengajiku yang lain, tetapi tak kulihat teman yang aku buru di sana. Ah, baiklah, tidak apa-apa. Mungkin besok saja, pikirku.

Usai shalat, aku menengok ke jendela dan menyadari hujan turun. Aku harus bergegas pulang, pikirku, sebelum hujan gerimis menjadi semakin deras. Kalau tidak, aku akan basah kuyup, sebab payungku tertinggal di toko Arab di pusat kota.

Dengan agak berlari, aku menuruni tangga dan segera menuju ke lantai bawah. Mesjid sudah kembali sepi dan tak kulihat satu jamaah pun. Lalu kubuka pintu keluar yang menuju lobby luar masjid. Aku terperangah, hujan gerimis itu telah berubah seketika menjadi hujan deras.

"Kamu harus menunggu, hujannya deras," ucapnya. Dia adalah teman mengajiku yang aku lihat dari atas sebelum shalat tadi. Dia sedang duduk sendirian di lobby luar masjid menunggu hujan. "Ah... ya," ucapku masih agak terheran melihat hujan yang tiba-tiba lebat begitu cepat.

Di lobby itu ada banyak sekali kursi, biasanya tak begitu. Yah, karena tak punya pilihan selain menunggu, aku pun duduk di salah satu kursi itu, dengan jarak sekitar dua meter darinya.

Kami lalu berbincang-bincang singkat, menanyakan kabar masing-masing dan pekerjaan. Tak lama kemudian kami sibuk dengan hand phone masing-masing. Dia menonton video ceramah dalam bahasa ibunya, sebuah bahasa yang tak aku mengerti. Sementara itu, aku membalas pesan-pesan whatsapp yang sudah lama belum aku balas. Aku selalu saja mempunyai pesan yang tertunda sangat lama untuk kubalas.

Temanku itu lalu membuka kembali percakapan, kami bercakap-cakap mengenai pentingnya memegang teguh agama Islam di negara sekuler. Aku menimpalinya dengan cerita rekan kerjaku yang tak memeluk agama pun, tetapi pergi berdoa ke gereja jika sedang bersedih atau dilanda masalah.

Kami lalu kembali sibuk dengan hand phone masing-masing. Setelah beberapa menit, dia membuka percakapan lagi dan kami kembali mengobrol. Lalu kami kembali pada hand phone masing-masing, terus berulang seperti itu hingga aku berpikir, ternyata dia suka berbicara kepadaku. Selama ini aku pikir dia tidak tertarik untuk berbicara denganku selain sapaan-sapaan umum setiap kali kami bertemu dalam pengajian mesjid.

Hujan turun dengan derasnya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti. Di tengah-tengah penungguan kami itu, dia bertanya kepadaku, "apakah kamu akan tinggal di sini selamanya?"
Aku tidak tahu sama sekali aku akan menetap di mana, jadi aku menjawab, "aku tidak tahu. Tidak masalah bagiku untuk tinggal di mana saja."

"Apakah kamu mau menikah di sini?" tanyanya lagi dengan nada penasaran.
"Itu juga aku tak tahu. Kalau memang sudah takdirku untuk menikah di sini, maka itulah yang akan terjadi," jawabku lugas. "Orang tuaku juga tidak keberatan dengan asal calon suamiku kelak, dari Indonesia, dari Jerman, atau dari mana pun," tambahku.
"Wah, bagus sekali," dia tidak menduga aku memiliki jawaban semacam itu.

Dia lalu melanjutkan, "bolehkah aku tahu, kriteria seperti apa calon suami yang kamu mau?" 
"Seorang muslim yang baik, itu saja," jawabku sambil tersenyum. Aku tak tahu kalau topik ini mengusik rasa penasarannya.  Dia lalu meneruskan, "tidak harus kaya kah?"
"Tidak," jawabku. "Kemarin malah ada seseorang dan orang yang hendak memperkenalkan kami berkata, 'dia punya mobil lho,' tapi aku tidak tertarik. Aku tidak butuh mobil."
"Jadi, yang terpenting adalah imannya, begitu maksudmu?" selidiknya.
"Ya, benar," tegasku.

Dia bertanya lagi, "sudah berapa lama kita saling mengenal? Lima bulan? Enam bulan?"
"Sudah lama... Bukankah kita sudah saling mengenal selama satu tahun?" jawabku, balik bertanya.

Dia mengangguk dan bertanya lagi, "lalu, bagaimana kamu melihatku selama ini?"
Pertanyaan ini cukup mengusikku. Ini bukanlah jenis pertanyaan yang akan dia lontarkan begitu saja. Aku berpikir sejenak sebelum menjawab. Aku ingin berkata, kamu adalah pria yang baik, atau sholeh. Tapi karena dia lebih muda dariku, bagiku dia bukan seorang pria (a man) melainkan seorang cowok (a boy). Lalu aku berkata, "kamu itu anak cowok yang sangat baik."

Dia langsung mengajukan pertanyaan berikutnya sepersekian detik setelah dia memperoleh jawaban dariku. Dia bertanya, dan aku tak menduga sama sekali bahwa dia akan menanyakan hal itu, "kalau begitu, bisakah kamu membayangkan memiliki masa depan denganku?"

.    .    .

Aku. Sangat. Terkejut. Dengan pertanyaan itu. Aku bingung harus menjawab apa. Aku tak tahu aku harus menatap apa. Suasana sunyi selama beberapa detik. Lalu dia melanjutkan - aku sungguh bersyukur dia tidak menungguku menjawab. Dia melanjutkan dan dengan tenang menjelaskan alasannya. Suaranya bergetar... Dia menerangkan bahwa dia sudah siap menikah, dan bahwa yang terpenting baginya juga sama halnya denganku, yakni untuk memiliki pasangan yang baik sesuai kriteria agama. Tinggal di negeri liberal tanpa pasangan yang paham agama bisa menjadi sangat sulit, apalagi jika mulai memiliki anak dan harus mendidik mereka dengan aqidah yang benar, di tengah-tengah dunia sekuler dan hanya mengedepankan logika ini. Dia menjelaskan visi misi menikahnya dengan panjang lebar. 

Aku kebingungan sekaligus salah tingkah. Untunglah dia tidak berbicara sambil menatap mataku. Dia berbicara sambil menunduk, sementara aku menatap pepohonan dan langit di depan mesjid. Aku benar-benar tak tahu harus berbuat apa.

"Untuk masalah finansial, tidak akan menjadi masalah. Kita akan makan dan hidup dengan layak meski tidak mewah," tambahnya lagi.

Hari itu adalah salah satu hari di penghujung musim panas. Hari Ahad terakhir bulan Agustus. Aku duduk mematung dan berusaha mengendalikan ekspresi wajahku yang saat itu rasanya sulit sekali untuk kukendalikan. Ingin rasanya mulutku kubiarkan menganga dan berseru, "apa???"  



Bersambung.

Memori yang Tak Terucapkan (Puisi jaman SMA)


19 Oktober  2012

Tak semuanya tertuliskan dan terlukiskan
Tak selamanya memori teringatkan
Tak seharusnya sesuatu terjadi
Tak seharusnya ingatan kembali
Tak seharusnya ingatan diingatkan
Tak seharusnya ia membawa bisikan,
sebuah kata penangkal,
atas kerinduan yang tak terelakkan
akan sebuah ingatan yang terhapuskan.
Seperti daun-daun yang gugur itu,

Aku pun terus melanjutkan kehidupan
Dengan dan tanpa kenangan
Sebuah memori yang hilang

Sebongkah demi sebongkah guratan memori itu
Gugur berjatuhan
Terembus bayu yang dingin
Menggetarkan sukma, mengingatkan
Menarikku ke dalam pelukan angin
Seperti badai kurasakan.

Ketika air mata telah tergenang
Ketika daun kembali berjatuhan
Semua itu tak dapat kuulang lagi
Menggelinding menjauh, menyisakan batas mimpi

Dan malaikat pun menangis
Meraung-raung di tengah badai
Merindukan langit malam
Menjuntai di bawah khayangan… 

Lorong Musim Panas

Degup Empat Musim - My First Autumn, Winter, Spring and Summer Story

Pertama kalinya aku tiba di Schwäbisch Hall, saat itu Jerman sedang berada di penghujung musim panas. Cuacanya sudah tidak panas dan dalam waktu sebulan, suhu secara berangsur mulai mendingin. Seorang teman berkata bahwa aku beruntung sampai di Jerman ketika cuaca tidak lagi panas ekstrim. Saat itu aku tidak begitu mempercayai kata-katanya. Pikirku, mana mungkin musim panas Jerman lebih panas dari temperatur negeri tropis yang setiap hari, sepanjang tahun, dibanjiri terik matahari.


Hujan musim gugur di jendela
Musim Gugur 2018 ~ Herbst. Autumn.

Seiring suhu perlahan menurun, tibalah bulan Oktober. Dedaunan mulai bermetamorfisis menjadi kuning, oranye, merah, dan coklat... menandakan musim gugur telah menghampiri. Itu adalah musim gugur pertamaku. Indah sekali. Belum pernah aku menyaksikan secara langsung pepohonan berdaun warna-warni. Warna cantik khas musim gugur.

Suatu kali pada musim gugur, aku pergi ke Bad Urach dan Bodensee. Sepanjang perjalanan, aku melihat kanan kiri hutan dan Schwäbische Alb. Mataku terpaku melihat lukisan alam warna-warni yang memukau itu. Hampir tak nampak warna hijau. Yang kulihat itu seperti pemandangan cantik dalam kalender atau ilustrasi pada ensiklopedia musim gugur negeri empat musim.

Beberapa hari kemudian, wewarnian kuning, oranye, merah, dan coklat itu pelan-pelan mulai berguguran. Dari jendela kamar, aku melihat dedaunan itu berjatuhan perlahan dan tertiup angin. Jika aku keluar rumah, daun-daun itu mengikutiku. Lalu mereka berserakan dan setelah beberapa hari justru malah mengganggu, karena daun-daun tua itu terlalu banyak jumlahnya hingga terkadang menghalangi jalan.

Musim gugur terus berjalan dan suhu udara terus menurun. Orang-orang mulai mengenakan jaket jika keluar rumah, tengah hari sekalipun. Selama 2-3 hari pada musim itu, aku merasa udara terlalu dingin hingga aku menggigil pada malam hari sebelum tidur. Namun setelah itu, tanpa pernah aku sangka, badanku beradaptasi dengan sangat cepat. Aku memang tetap merasa cuacanya dingin setiap hari, tetapi aku tidak merasa itu mengganggu.

Udara terus mendingin dan siang hari mulai memendek. Matahari terbit terlambat dan tenggelam lebih dini. Musim dingin bersiap untuk menyapa. 

Pemandangan musim gugur dari jendela
 Musim Dingin 2018 - 2019 ~ Winter

Bulan Desember meniupkan angin yang lebih sejuk. Tanpa bisa dicegah, dimulailah musim dingin yang telah aku wanti-wanti dinginnya. Aku pikir, aku telah berhasil bertahan hidup dari suhu rendah musim gugur, akankah aku melalui musim dingin dengan gemilang juga?

Dari sudut mataku, aku menangkap kilasan titik-titik putih dari luar jendela ruang kelas. Kutengokkan kepala ke luar. Salju pertama turun. Lebat dan putih. Butiran salju itu jatuh ke tanah dan rerumputan, lalu menghilang seketika. Udara belum cukup dingin untuk membuat si putih terkumpul menjadi satu.

Salju terus berguguran dari awan di atas sana. Aku menatap takjub bintik-bintik putih di udara itu. Seorang guru di dekatku menengok pula ke arah jendela dan akhirnya menyadari bahwa di luar tengah hujan salju. "Wah, salju pertama," serunya. Ya, salju pertama. Aku pikir salju pertamaku akan kusaksikan bersama orang yang lain. Ternyata, di sinilah aku, bersama guru dan anak-anak di ruang kelas.

Aku menunggu dengan antusias ketika salju turun tiada henti dan gundukannya tersebar di mana-mana. Namun salju tak datang setiap hari pada awal musim dingin. Terkadang ia turun pada suatu hari, lalu menghilang tak ada kabar pada hari berikutnya. Ia mewarnai dinginnya hari dengan berselang-seling. Bahkan bisa juga ia pergi selama sepekan, lalu barulah ia muncul lagi dari langit.

Suatu hari pada hari sabtu di bulan Desember yang dingin, aku tengah terlelap dengan jaket tebal di balik selimut musim dingin. Saat itu mungkin tengah malam atau dini hari, aku merasa suhu tiba-tiba turun begitu rendah hingga badanku menggigil. Dingin sekali. Aku belum menyadari apa yang sedang terjadi di luar rumah.

Pagi hari sekitar pukul 9, barulah kutarik Rolladen jendelaku tanpa menduga apa-apa. Dan... kulihat di depan mataku, pemandangan putih yang sangat memesona. Semua permukaan yang ada, semuanya putih tertutup salju. Pepohonan, dedaunan yang masih bertahan dari musim gugur, atap rumah, jalan raya, jalan setapak, rerumputan, tak ada yang sempat bersembunyi dari derasnya salju yang turun semalam hingga sepanjang hari pada hari itu. Sungguh sangat indah.

Saat pertama kalinya melihat putih yang merata itu, sungguh, aku menganga. Kagum melihat pemandangan yang disuguhkan Allah kepadaku. Subhanallah, seruku tanpa aku sadar.

Hari itu aku memiliki janji temu dengan dua keluarga. Mereka mengundangku untuk berkenalan dengan anggota keluarga mereka dan bersantap malam bersama. Melihat pemandangan putih tadi, aku sungguh tak sabar untuk segera meluncur ke luar rumah. 

Dari balik jendela
Dengan antusias, kukeluarkan Stiefel 👢 (sepatu bot musim dingin), sarung tangan, dan syal yang selama ini aku nantikan untuk kupakai. Hari ini aku mungkin akan membeku, pikirku. Kukenakan semua perlengkapan itu, lalu dengan segera aku bergegas ke luar.

Putih. Sejauh mata memandang, putih. Tak kulihat lagi rerumputan di pekarangan rumah, semua seolah disulap menjadi putih.

Kutapakkan kaki dengan hati-hati, bisa saja licin, pikirku. Dan memang licin. Kuangkat kembali kakiku dan aku semakin antusias saat kulihat tapak sepatuku di atas salju. Aku berjalan lebih jauh lalu berhenti. Kudongakkan kepala dan kuperhatikan salju yang berguguran tiada akhir. 

Ternyata, salju bentuknya tidak bulat, melainkan tidak beraturan. Kubuka sarung tanganku dan kubiarkan butiran salju mendarat di permukaan kulit tangan dan wajahku. Ketika mereka mendarat di permukaan tanganku, bisa kurasakan partikelnya yang sangat lembut.

Kuraup segenggam dari salah satu tumpukan salju di pinggir jalan. Seperti es serut tetapi lebih lembut dan rapuh. Setelah beberapa lama, aku harus membuangnya kembali... dingin... telapak tanganku memerah kedinginan dan menjadi kaku.

Beberapa jam kemudian perang pecah di belakang masjid. Anak laki-laki ustadzku melancarkan serangan bola salju kepadaku.
Gumpalan-gumpalan putih itu mengenai jaketku dengan sangat cepat. Dasar bocah, aku pun tak mau kalah dan menyerang balik dengan senjata putih pula. Kami saling menyerang dan tertawa-tawa. 

Perang salju kami bahkan semakin seru dengan ustadzku yang ikut bergabung dalam wajib militer salju. Seperti anak-anak, beliau melancarkan bom-bom putih dengan ekspresi sungguh-sungguh bak di medan perang. Kalian harus melihat ekspresi beliau secara langsung. Lucu sekali.

Namun, pada bulan-bulan bersalju itu, tak hanya cantiknya salju dan udara dingin yang menguasai, melainkan juga kegelapan. Yang aku maksud dengan kegelapan adalah langitnya yang tak cerah, seolah matahari sedang bersembunyi. Kenyataanya adalah, bumi bagian utara tengah berada pada posisi condong menjauhi matahari dan bumi bagian selatan tengah berhadapan dan berdekatan dengan matahari. Oleh karena itulah penduduk bumi bagian utara menjalani hari-hari gelap nan dingin, sementara penduduk bumi bagian selatan tengah berpeluh-peluh dalam hangatnya musim panas. Mereka merayakan hari natal dan tahun baru dengan limpahan cahaya sang surya.

Baca juga: Pengganti Ibu di Negeri Salju


Winter Blues

Meskipun indah, tetapi ternyata antusiasme musim saljuku tak berlangsung selamanya. Hari-hari yang dingin dan gelap membawa serta suasana melankolis. Agak aneh rasanya ketika aku keluar pada pukul 6.30 dan suasana begitu gelap. Adzan subuh saja baru berkumandang pukul 6.15. Bahkan pada pukul 8.30, langit masih saja gulita. Tengah hari pun tak benar-benar cerah, kami memang sedang membelakangi sang pusat tata surya. Lalu pada pukul 4.30 sore, sinar matahari yang hanya sedikit itu sudah kembali tenggelam ditelan malam. Adzan magrib mulai berkumandang. Pukul 5 sore, suasana sudah gelap total. Bahkan waktu 'isya sudah tiba pada pukul 6. Dimulailah malam hari yang begitu panjang. 

Putih
Winters Lächeln ~ Winter's Smile

Namun, ada hikmah besarnya juga: kita bisa salat tahajjud pukul 5 pagi atau bahkan pukul 5.30 😄. Sungguh sangat menyenangkan. Begitu pula jika hendak shaum, santap sahur pukul 5.30 dan sudah kembali berbuka pukul 4.30. Puasa sekejap mata.

Setelah menjalani musim salju pertamaku, aku merasa musim dingin tidaklah seburuk yang aku kira. Badanku beradaptasi dengan sangat baik dan sangat cepat hingga aku merasa nyaman-nyaman saja pada suhu sangat dingin sekalipun. Lagipula suhu terdingin tidak mencapai minus belasan derajat seperti di negara-negara Skandinavia. Suhu terendah sejauh yang aku pantau melalui hand phoneku adalah -8°. Dan aku baik-baik saja.

Aku pernah terserang flu dan hidungku meler selama tiga hari pada bulan Desember, tetapi itu pun karena aku 'malas makan' selama dua hari sementara aku tetap bepergian keluar rumah pada dua hari yang dingi tersebut. Namun setelah aku meminum obat flu, badanku kembali sehat seperti sedia kala.

Musim dingin tahun itu tak sedingin tahun lalu, orang-orang bercerita kepadaku. Tahun lalu, sungai di pusat kota membeku dan orang-orang bermain-main di atasnya. 

Namun meski tak sedingin tahun kemarin, dinginnya tahun ini berlangsung agak sedikit lebih lama. Udara dingin terus berlangsung bahkan hingga bulan Mei, padahal musim semi sudah dimulai sejak akhir Maret. Orang-orang mulai mengeluhkan matahari yang belum terasa hangatnya. Berbeda denganku yang tak benar-benar merindukan matahari. Dikarenakan dingin berbulan-bulan itu, aku menjadi terbiasa dengan ketidakhadiran matahari.

Bulan Ramadan tahun ini juga masih berlangsung pada hari-hari yang dingin, padahal sudah bulan Mei. Hanya hari terakhir puasalah yang panas. Udara yang terlalu hangat membuat badanku lelah dan lemas.

Die Sonne. The Sun. Matahari. Panon Poé.

Kini musim panas tengah merajai. Di beberapa kota, suhunya bisa mencapai 41°!!! Aku tak bisa membayangkan betapa gerahnya itu. Untung saja di kotaku Schwäbisch Hall, temperaturnya tidak setinggi itu. Namun bukan berarti suhu di sini dapat dinikmati! Tetap saja rasanya sangat panaaasss....

Di Indonesia, suhu tertinggi yang pernah aku alami adalah 30°. Di Jogja tempat aku kuliah dahulu, angka ini adalah angka normal harian. Dan dengan angka setinggi ini saja aku sudah menderita. Setiap hari selama 4 tahun kuliah, aku selalu mengeluhkan udara yang bagiku terlalu panas. Kadang aku bahkan terserang sakit kepala akibat matahari Jogja yang begitu terik. Malangnya, sakit kepala itu menemani aktivitasku sepanjang hari 😭.

Di sini, awalnya aku pikir musim panas akan tetap sejuk, hanya matahari saja yang cerah ceria. Gambaran bule-bule yang kepanasan pada musim panas di berbagai film, ternyata adalah kenyataan. Dan... suhu tertinggi kota kami hingga bulan ini adalah... : ... 36°! 😅 Peluh... peluh... peluh... Badanku berubah menjadi sangat lemas. Mengapa aku merasa tak punya tenaga ya, tanyaku kepada salah seorang rekan kerja. Karena udara panas, jawabnya. Udara panas dapat membuat kita merasa lemas. Sebab badan kita tidak merasa nyaman, badan kita menjadi kelelahan karena berusaha untuk menyesuaikan diri dengan suhu yang berada di atas rata-rata.

Baca juga: Kok Pake Kerudung?

Badanku memang sedikit aneh. Sejak kecil aku memang sering punya masalah dengan terik matahari. Seolah kami tak pernah berteman baik, padahal aku adalah seorang gadis tropis tulen. Anehnya, berbeda dengan orang-orang, aku tak sakit jika kehujanan, tetapi justru sakit jika terlalu lama berada di bawah sinar mentari! Dan badanku tetap begitu hingga usia dewasa. Aku tak mengerti.

Seorang kawan Indonesia berjalan bersamaku suatu kali. Saat itu malam dan sangaaat dingiiin. Dia menggigil bukan main di sampingku. Aku pun kedinginan, tapi aku tak semenderita itu. Aku bahkan masih bisa bercanda dan tertawa. Sepertinya tubuhku memiliki mekanisme perlindungan diri dari suhu rendah yang cukup baik dibandingkan penduduk equator lainnya.

Bahkan kini setelah melewati musim dingin, suhu ideal bagiku adalah 14 - 20°. Suhu 9 - 11° saja masih tetap terasa nyaman bagiku. Anehnya, kini 25 ° sudah terasa hangat menurutku, aku bisa merasakan pancaran cahaya matahari pada punggungku, dan aku tidak terlalu suka.

Selain semakin tidak nyaman dengan udara panas, ada pula perubahan lainnya pada tubuhku. Sebelum terdampar di Jerman, aku tak pernah benar-benar membayangkan perubahan pada kondisi biologis badanku akibat cuaca ekstrim negeri subtropis. Aku tak punya gambaran nyata karena aku belum mengalaminya. Kini, sejak bulan Mei, termasuk selama Ramadan, terdapat perubahan yang tidak begitu baik. 

Schwäbisch Hall pada musim panas
Ngantuk Berat ~ My Sleepyhead Side

Perubahan yang kumaksud adalah jam tidur. Fajar menyingsing terlalu cepat. Pada bulan Ramadan (Mei), subuh dimulai antara pukul 3.30 pagi dan berubah perlahan menjadi pukul 4 pagi. Disebabkan dininya waktu subur, maka waktu sahur pun harus lebih dini lagi, yaitu antara pukul 3 atau pukul 3.30. Sementara itu, salat tarawih berakhir sekitar pukul 11.30 malam karena 'isya baru tiba pada pukul 10.30. Maklum, magrib saja pukul 9.30 malam.

Oleh sebab itu, waktu tidurku menjadi tidak normal. Hanya sekitar 3 jam saja. Meskipun kekurangan waktu tidur itu aku tebus pada pagi hari setelah subuh hingga pukul 7, dan atau pukul 4 sore setelah pulang kerja, tetap saja badanku tidak menerima itu sebagai sesuatu yang normal. Ditambah lagi, aku tidak selalu tidur pada pagi atau sore hari seperti yang telah kusebutkan itu, sehingga mataku selalu mengantuk hampir sepanjang waktu. Dan ini masih terus berlangsung hingga saat ini 😅. Pada akhir musim panas nanti, waktu 'isya akan berubah ke kisaran pukul 9.30 malam dan subuh pukul 5 pagi. Perlahan, semuanya akan berubah menjadi lebih baik.

Yah, ternyata, yang menjadi tantangan biologis bagiku justru bukan musim salju, melainkan musim panas. Aku rindu musim salju 😣.

Baca juga: Senandung Kabut Pagi (Cerpen)

Bodensee


Puasa Empat Musim di Jerman – Pengalaman Puasa yang Asyik!


Artikel saya ini diterbitkan juga oleh Deutsche Welle dengan link: 

Sejak sembilan bulan yang lalu aku tinggal di Schwäbisch Hall, Baden-Württemberg. Selama beberapa bulan ini juga, aku sudah pernah merasakan puasa dengan durasi yang berbeda-beda, tergantung musim yang sedang berlangsung. Sementara satu bulan terakhir ini adalah pengalaman pertama Ramadanku dengan durasi puasa yang 'tidak normal.'

Musim Gugur

Musim gugur tahun lalu, aku masih bisa merasakan pengalaman puasa sunat dengan durasi yang masih terbilang wajar. Misalnya pada sekitar bulan Oktober, aku bangun untuk makan sahur sekitar pukul 5 pagi dan berbuka puasa sekitar pukul 6.30 sore. Durasi puasanya sekitar 12,5 jam saja, tetapi durasi puasa ini bahkan menjadi semakin pendek seiring siang hari yang semakin menyusut menuju musim dingin.

Musim Dingin

Pada musim dingin, durasi puasa menjadi lebih menarik. Durasinya menjadi sangat pendek dikarenakan waktu gelap (malam hari) yang menjadi lebih panjang dibandingkan siang hari. Pada musim ini aku bisa santap sahur pukul 5.30 mengingat adzan subuh baru berkumandang hampir pada pukul setengah 7 pagi. Lalu pada pukul 5 sore, suasana sudah gelap, karena pada pukul setengah 5 waktu berbuka sudah tiba! Durasi puasanya hanya sekitar 10 jam saja. Seolah-olah seperti kita sarapan pagi-pagi, lalu tidak makan siang, dan baru makan saat selesai beraktivitas pada sore hari.

Musim Semi - Ramadan

Lalu bagaimana dengan puasa pada musim semi? Inilah pengalaman Ramadan pertamaku di Jerman! Ramadan tahun ini berlangsung pada musim semi dengan suhu yang masih terhitung dingin bagi orang Jerman sekalipun. Hanya pada hari terakhir puasa temperatur berubah menjadi panas seperti di tanah air tercinta.
Meskipun suhu masih terbilang dingin, tetapi tetap saja siang hari sudah lebih menguasai daripada durasi malam hari, yang sudah terpotong sekitar 5 jam dibandingkan malam hari di Indonesia. Pada hari pertama puasa, aku mengikuti salat tarawih di mesjid Turki dekat rumahku: Mevlana Moschee.

Beruntung sekali mesjid ini sangat dekat, hanya berjarak 10 menit jalan kaki saja. Tarawih di Mevlana Moschee ini dimulai tepat setelah salat isya, yaitu sekitar pukul setengah 11 malam dan berakhir sekitar pukul setengah 12.

Di rumah, dengan antusias aku menyiapkan kudapan sahur agar saat bangun nanti aku hanya tinggal menyantapnya saja. Aku merebus sebutir telur dan membuat müsli (sajian sarapan sehat khas Jerman). Lalu aku bergegas tidur dan memasang banyak alarm untuk membangunkanku pada pukul 3 atau setidaknya setengah 4, mengingat imsak sudah nyaring berbunyi pada pukul 4.16.
Namun pengalaman sahur pertamaku tidak berjalan mulus, karena aku bangun terlambat. Kudapan sahur pun aku simpan kembali di kulkas untuk keesokan harinya, yang juga tak sempat tersantap karena aku kembali bangun kesiangan. Müsli untuk sahur pertamaku baru berhasil aku santap pada sahur hari ketiga.

Dibandingkan di Indonesia, puasa di Jerman tentu saja sangat berbeda. Hampir semua orang tidak berpuasa kecuali aku, mengingat rekan kerjaku yang muslim sangat sedikit. Semua orang terheran-heran melihat aku tidak makan bahkan tidak minum sebelum matahari terbenam. Menurut mereka, setidaknya aku harus minum.

Pokoknya, suasana Ramadan di sini tidak terlalu kentara. Orang-orang makan dan minum di sekelilingku seperti biasa; tidak ada yang tahu bahwa Ramadan tengah berlangsung; tidak ada tayangan komedi sahur; tidak ada yang membangunkan untuk sahur selain alarm hand phone; tidak ada kultum-kultum khas Ramadan; tidak ada pemandangan orang-orang bertilawah di berbagai sudut; tidak ada orang yang berjualan takjil; dan tidak terdengar adzan Magrib yang selalu sudah dinantikan (suara adzan tidak sampai ke rumahku).

Lalu, apalagi tantangan lainnya? Tentu saja durasi puasa yang lama. Ifthar hari pertama adalah pukul 20.50 dan ifthar hari terakhir pukul 21.24 dengan imsak sekitar pukul setengah 4 pagi.

Namun ternyata puasa yang lama ini tidak menjadi soal bagiku. Rasa lapar dan haus masih terasa normal sebagaimana berpuasa di Indonesia. Yang menjadi masalah adalah waktu tidur yang menyempit sangat signifikan.

Setiap kali pulang tarawih, pasti saja jam sudah menunjukkan sekitar pukul setengah 12 malam. Jika aku tidak langsung tidur karena mengerjakan ini dan itu, tanpa terasa sudah tengah malam atau bahkan sudah pukul 1 pagi. Ketika aku akhirnya tidur dan bangun kembali, mataku terasa perih karena tidur yang baru berlangsung 2 sampai 3 jam saja. Setelah salat subuh, mataku selalu terasa sangat berat dan untuk menabung energi, biasanya aku tidur kembali. Jika aku tidak melanjutkan tidur, maka aku akan merasa lelah saat bekerja dari pukul 7 pagi hingga setengah 4 sore.
Jika aku tidak tidur setelah subuh, maka biasanya aku akan tidur sepulang kerja sambil menunggu waktu asar pada kisaran pukul 5 sore. Istirahat ini sangat aku perlukan demi memulihkan tenaga untuk waktu puasa yang masih berlangsung sekitar 4 hingga 5 jam, plus harus terjaga hingga selesai tarawih pada tengah malam. Namun karena sangat lelah, terkadang aku baru bisa bangun pukul 7 atau 8 malam, meskipun alarm hapeku terus menjerit-jerit marah membangunkanku. Untung saja ketika bangun, langit masih terang benderang karena matahari belum terbenam!

Salah satu menu ifthar di Mesjid Mevlana

Menu lainnya

Ludesss

Beruntung, Ramadan tahun ini suhunya tidak panas, sehingga aku tidak berpeluh-peluh maupun kehausan. Aku juga tidak merasa sendirian, karena setiap tarawih aku bertemu banyak muslim lainnya yang juga berjuang mengerahkan sisa-sisa energi untuk mendirikan salat sunat khas Ramadan ini di mesjid. Selain itu, setiap hari Jumat dan Sabtu, selalu diadakan buka puasa bersama di mesjid. Hidangan yang disajikan berasal dari iuran sukarela jamaah masjid. Ramai sekali orang berbondong-bondong ke mesjid untuk ifthar bersama menyantap kudapan yang sangat lezat. Mengingat ini adalah mesjid Turki, makanan yang dihidangkan pun masakan Turki yang sangat melimpah dan kaya akan daging, karbohidrat, juga salad, tak lupa juga makanan penutup yang sangat manis!

Selain buka bersama di mesjid, aku juga sering berbuka puasa bersama dengan keluarga-keluarga yang aku kenal di mesjid. Mereka menjamuku dengan hidangan berbuka yang sangat banyak dan sangat lezat. Hanya satu kekurangannya: tidak ada sambal.

Lalu, sejak jauh-jauh hari, aku meminta izin untuk tidak masuk kerja pada hari raya ‘Idul Fitri. Lebaran pertamaku di Jerman ini aku habiskan bersama kenalan-kenalan Turki yang aku kenal dari mesjid. Juga bersama hidangan-hidangan türkisch mereka yang sangat lezat dan tiada akhir.

Ramadan pertamaku sudah usai dengan masalah jam tidur yang menjadi persoalan utama. Namun Ramadan berikutnya akan lebih ringan karena akan dimulai di bulan April, waktu di mana durasi puasa dan durasi waktu tidur akan lebih bersahabat.

Kalau musim panas sudah hadir, aku ingin mencoba bagaimana rasanya puasa dengan durasi yang jauh lebih menantang. Mungkin aku akan harus bangun sahur pukul setengah 2 pagi dan berpuasa hingga pukul setangah sepuluh malam yang masih cerah ceria. 

Mevlana Moschee pada siang hari tanggal 1 Syawal 1440 

Der dunkle Regen


Die Augen,
Sie sind regnerisch
Sind sie die Wolken da fliegen?
Warum sehe ich keine Sonne?

Hatte der Regen gestern aufgehört?
Da er heute schon wieder kommt
Spüre ich gerade den Regen aufs Gesicht? 
Oder sind sie meine Tränen?

Das Licht,
Es scheint
Aber die Augen sehen nur Dunkelheit 
Da sieht man finster

War der Regenbogen 🌈 echt bunt?
Hatte er die Farbe schwarz denn?
Da ich schwarzen Regenbogen sah
Die anderen Farben waren weit versteckt gewesen

Hatte jemand die irgendwo gesehen?

Könnte man die irgendwann finden?

Weil ich ängstlich bin, noch einmal mich zu verlieben 
Wäre es sogar noch möglich?
Vermutlich wenn es noch 'ne neue Geschichte gäbe 
Wenn der Regen nicht mehr dunkel wäre


 ***


Hujan Hitam

Kelopak di mataku, berhujan
Apakah itu awan, terbang?
Mengapa aku tak melihat mentari menggantung di atas sana

Apakah hujan kemarin sudah reda?
Sebab hari ini ia sudah bertandang lagi
Apakah sedang kurasakan tetesan hujan,
Menimpa wajahku
Ataukah itu bulir-bulir buramku?

Sinar itu,
Sinar itu menyala
Tetapi, tetapi mataku menangkap hitam
Tak terindera warnanya

Apakah pelangi 🌈 sungguh berwarna-warni?
Punyakah ia warna hitam?
Sebab, sebab aku melihat pelangi hitam
Wewarna yang lain jauh bersembunyi

Adakah di antara kalian,
yang melihat warna yang lain?

Adakah di antara kalian,
bisa menemukannya?

Sebab, aku takut,
jatuh cinta sekali lagi
Apakah itu masih mungkin?
Mungkin, jika masih ada lembar cerita yang baru
Ketika hujan tak lagi gelap

About Me

My photo
Schwäbisch Hall, Baden-Württemberg, Germany
I'm a dreamer and a daydreamer

Follow by Email

Search This Blog

Powered by Blogger.

Translate

Followers